Peranan
sifat Bebas Politik Luar Negeri Indonesia Dalam Peraturan Internasional
Dalam
percaturan internasional, perwujudan dari sifat bebas dari politik luar negeri
Indonesia cukup banyak. Sebagai contoh, keterlibatan negara Indonesia dalam
berbagai organisasi kerja sama ekonomi, sosial, budaya, juga politik dan
keamanan. Tentu juga keberadaan organisasi-organisasi tersebut ada yang
bertaraf regional dan internasional.
Untuk
lebih jelasnya, beberapa contoh peranan sifat bebas dari politik luar negeri Indonesia
dalam percaturan internasional antara lain sebagai berikut :
1. Indonesia dan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa) sering disebut dengan UNO (United Nations
Organization). Organisasi ini dibentuk setelah organisasi sebelumnya LBB (Liga
Bangsa-Bangsa) gagal menjalankan perannya mempertahankan perdamaian dunia.
Pembentukan PBB juga didorong oleh pecahnya Perang Dunia kedua.
PBB
merupakan organisasi bangsa-bangsa sedunia dengan tujuan menciptakan perdamaian
dunia. Anggota perintisnya berjumlah 50 negara yang kemudian dikenal dengan
negara anggota pendiri. Tujuan serta prinsip dari PBB adalah :
·
Pemeliharaan perdamaian dan keamanan
internasional.
·
Memperkembangkan hubungan persahabatan
antar bangsa dengan menghormati hak untuk menentukan nasib sendiri dan
berdasarkan persamaan hak serta kedudukan.
·
Meningkatkan kerja sama internasional di
bidang sosial, ekonomi serta budaya.
·
Menjadikan pusat dari kegiatan
bangsa-bangsa dalam mencapai kerja sama yang harmonis untuk mencapai tujuan
PBB.
Bagaimana
peranan sifat bebas politik luar negeri Indonesia dalam kaitannya dengan PBB?
Pada awal kemerdekaan politik luar negeri Indonesia belum dilaksanakan
secara maksimal, sebab perhatian Indonesia untuk mengatasi berbagai gejolak.
Kita tahu Belanda saat itu ingin kembali mencengkeramkan kekuasaannya di
Indonesia. Selain itu ada juga beberapa pemberontakan yang terjadi di tanah
air.
Sejak
pengakuan kedaulatan RI 27 September 1949 dan negara RI memperoleh pengakuan
secara internasional, perintisan politik luar negeri Indonesia barulah dimulai.
Usaha pertama dibuktikan dengan diterimanya RI menjadi anggota PBB tanggal 27
September 1950. Saat itu negara RI menjadi anggota PBB yang ke-60.
Pada
tanggal 20 Januari 1965 Indonesia keluar dari keanggotaan PBB, dengan alasan
Malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Ingat, saat itu dalam
hal politik luar negeri Indonesia sedang konfrontasi dengan Negeri Jiran
tersebut. Setelah keadaan berubah, Indonesia kembali lagi masuk PBB pada
tanggal 28 Sep- tember 1966.
2. Indonesia dalam KAA dan GNB
a)
KAA (Konferensi Asia Afrika)
KAA
(Konferensi Asia Afrika) merupakan konferensi yang dihadiri oleh para wakil
negara berasal dari negara-negara Asia dan Afrika. Tujuan dari konferensi
tersebut adalah Kemerdekaan dari penjajahan. Dengan peran politik luar
negerinya Indonesia merupakan salah satu negara pemrakarsa konferensi itu.
Penyelenggara KAA pertama, di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955
berlangsung gemilang serta sukses. Dalam konferensi tersebut dihasilkan
keputusan bersama yang terkenal dengan Dasa Sila Bandung (sepuluh prinsip
hubungan internasional).
b)
GNB (Gerakan Negara Non-Blok)
Hampir
semua peserta KAA termasuk negara Non-Blok. Karena itu, antara KAA dengan GNB
punya keterkaitan yang erat. Gagasan Non-Blok (non-align) merupakan gerakan
dari negara-negara berkembang sebagai upaya agar tidak menjadi sasaran pengaruh
dua blok kekuatan besar (negara-negara adikuasa). Dua blok kekuatan yang
dimaksud adalah blok Barat di bawah Amerika Serikat dan blok Timur di bawah
pimpinan
Uni
Soviet. Saat itu blok Barat membentuk pakta pertahanan yang dikenal dengan NATO
(North Atlantic Treaty Organization). Sementara itu blok Timur membentuk pakta
pertahanan yang dikenal sebagai Pakta Warsawa. Penggagas gerakan Nonblok
adalah:
1. Presiden
Sukarno (Indonesia)
2. Perdana
Menteri Pandit Jawaharlal Nehru (India)
3. Gamal
Abdul Naser (presiden Mesir
4. Kwame
Nkrumah (presiden Ghana
5. Joseph
Broz Tito (presiden Yugoslavia)
KTT GNB
pertama diselenggarakan di Beograd (Yugoslavia) tanggal 1-6 September 1961 dan
dihadiri oleh 25 negara. KTT tersebut merekomendasikan perlunya penghapusan
segala jenis kolonialisme kepada Sidang Umum PBB. Pada tanggal 1-7 Juli 1992
Indonesia menjadi tuan rumah atas penyelenggaraan KTT X GNB, dan Presiden
Suharto menjadi ketua GNB masa bakti 1992-1995.
3. Indonesia dan ASEAN
ASEAN
(Association of Sout East Asia Nations) merupakan organisasi kerja sama
regional negara-negara kawasan Asia Tenggara. Indonesia dalam hal ini merupakan
salah satu negara perintis berdirinya ASEAN (lihat kembali bab sebelumnya
tentang ”Kerja sama Negara-negara Asia Tenggara”).
4. Indonesia dan OKI (Organisasi Konferensi Islam)
OKI
(Organisasi Konferensi Islam) merupakan organisasi yang dibentuk oleh
negara-negara Islam pada tanggal 25 September 1969, di Rabat, Maroko.
Negara
Islam yang dimaksud adalah negara yang secara konstitusional Islam atau negara
yang mayoritas penduduknya muslim. Pemrakarsa pembentukan OKI adalah Raja
Faisal (Arab Saudi) dan Raja Hassan II (Maroko). Latar belakang didirikannya
OKI adalah solidaritas umat Islam atas penyerbuan Masjid Al-Aqsa di Palestina
oleh tentara Zionis Israel. Secara resmi Indonesia masuk menjadi anggota OKI
pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ketiga tahun 1972 di Jedah, Arab
Saudi.
5. Indonesia
dan OPEC (Organization of Petrolium Exporting Countries)
OPEC
merupakan organisasi (kerja sama internasional) negara-negara pengekspor
minyak. Organisasi ini didirikan pada tanggal 14 September 1960, di Bagdad
(Irak). Pemrakarsanya adalah lima negara : Irak, Iran, Kuwait, Saudi Arabia,
dan Venezuela. Indonesia salah satu negara penting penghasil minyak di Asia,
dan telah menjadi anggota organisasi ini sejak tahun 1962.
Faktor
pendorong berdirinya OPEC adalah penurunan harga minyak dunia oleh sebab
permainan raksasa-raksasa perusahaan minyak seperti Shell, Exxo, Mobil, dan
Gulf. Perusahaan-perusahaan minyak raksasa ini memonopoli perdagangan minyak ke
negara-negara industri besar seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.
6. Indonesia dan
Palang Merah Internasional
Jalinan
Indonesia dengan Palang Merah Internasional dirintis sejak awal kemerdekaan.
Mula-mula Presiden Sukarno memerintahkan Menteri Kesehatan (saat itu Boentaran
Martoatmodjo) untuk mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI). Akhirnya PMI
terbentuk pada tanggal 17 September 1945 dengan ketua Prof. Dr. Mochtar.
Peran
PMI pada saat itu adalah menangani para korban perang (mempertahankan)
kemerdekaan. Untuk menarik simpati dunia internasional terhadap perjuangan
kemerdekaan pada saat itu, PMI mengadakan hubungan dengan Palang Merah
Internasional.
Saat
perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Palang Merah Internasional banyak
memberikan bantuan obat-obatan, pakaian, makanan, uang dan berbagai bentuk
fasilitas penting lain. Sebaliknya (setelah perjuangan mempertahankan
kemerdekaan berhasil) Indonesia juga banyak mengirim bantuan kepada bangsa-
bangsa lain seperti Afrika, India, Pakistan, Vietnam, Laos, Filipina, dan
lain-lain.
7. Indonesia
dan Polisi Internasional
Dalam
kaitannya dengan era globalisasi, tindakan-tindakan pidana maupun perbuatan
kriminal banyak dilakukan penjahat-penjahat kelas dunia. Mereka membentuk
jaringan yang rapi dalam melakukan tindakan-tindakan itu. Ada penyelundupan,
pembajakan pesawat udara, narkotika serta obat bius, terorisme, dan lain-lain.
Untuk mengatasi hal tersebut ada wadah kerja sama antar lembaga kepolisian
internasional yang dikenal dengan Interpol (International Police). Indonesia
antara lain telah menjadi anggota Interpol, dan berkali-kali diundang dalam
pertemuan-pertemuan Interpol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar